oleh

Norovirus Masuk Indonesia, Seberapa Bahaya Virus Tersebut?

Britahu.info — Tidak berlebihan jika tahun 2020 disebut sebagai tahun wabah. Pasalnya pandemi Covid-19 belum juga usai, kini wabah baru yang disebabkan oleh Norovirus mulai merebak. Lagi-lagi dilaporkan di negara yang sama yaitu China. Bukan hanya di China kasus infeksi Norovirus juga ditemukan di RI. 

Bulan Oktober ini, Universitas Shanxi di China melaporkan ada sebanyak 70 mahasiswanya terinfeksi virus yang menyerang sistem pencernaan tersebut. Melansir Global Times, Center for Disease Control & Prevention (CDC) China melaporkan 30 wabah tersebar di seluruh China dan lebih dari 1.500 kasus dilaporkan.

Sementara di Indonesia virus tersebut juga sudah mulai bermunculan. Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Ari Fahrial Syam dalam keterangan resminya. 

Prof Ari mengungkapkan virus ini juga mulai bermunculan di Indonesia. Salah satunya dilaporkan peneliti Indonesia dalam Jurnal of Medical Virology bulan Mei 2020. Penelitian itu menunjukkan dari 91 sampe feses yang diperiksa terdapat 14 sampel atau 15,4%

“Sampel penelitian yang dilakukan di awal tahun 2019 ini diambil dari beberapa rumah sakit di kota Jambi. kasus yang sama juga pernah dilaporkan dari beberapa kota di Indonesia,” Ungkap Prof Ari.

Jika mengacu pada situs resmi CDC, Norovirus sangatlah berbeda dengan Coronavirus yang menyebabkan Covid-19. Norovirus menyerang sistem pencernaan sementara Coronavirus menyerang sistem pernapasan. 

Setiap orang dapat terinfeksi Norovirus ketika berkontak langsung dengan orang yang terinfeksi terutama jika berkontak dengan kotoran orang yang terinfeksi. Penularan juga bisa terjadi ketika seseorang memakan makanan yang terkontaminasi virus dan berkontak dengan permukaan yang terkontaminasi dan menyentuh bagian mulut. 

Beberapa gejala yang dialami oleh penderita meliputi mual, muntah dan diare (muntaber) dan sakit perut seperti halnya gejala sakit pencernaan pada umumnya. Wabah Norovirus menurut CDC adalah hal yang lumrah. Virus ini juga dapat menyebar dan menginfeksi dengan sangat cepat. 

Upaya pencegahan dari infeksi dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana yang juga dipraktikkan untuk mencegah terinfeksi Covid-19. CDC mengimbau untuk sering mempraktikkan perilaku hidup higienis dengan rutin mencuci tangan dengan sabun, cuci dan bilas sayuran serta buah hingga bersih. 

Apabila seseorang mengalami gejala infeksi disarankan untuk tinggal di rumah selama dua hari hingga gejala mereda. Dokter juga menyarankan banyak mengkonsumsi cairan karena banyak cairan tubuh yang terbuang saat infeksi. Apabila tidak kunjung membaik segera hubungi dokter. 

Seberapa Parah Norovirus Itu?

Pada 7 Juli lalu para ilmuwan asal Italia yang dipimpin oleh Susanna Esposito dari University of Parma mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal Frontiers in Immunology. Para ilmuwan tersebut menyebut Norovirus merupakan patogen penyebab penyakit saluran pencernaan global yang berbahaya. 

Di antara 2,7-4 miliar kasus diare yang didiagnosis secara global setiap tahun, kurang lebih ada 18% dikaitkan dengan infeksi Norovirus.  Tak ada perbedaan yang signifikan antara negara maju (20%) dan negara berkembang dengan mortalitas terkait diare rendah di angka 19%.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari lima penyakit pencernaan diakibatkan oleh Norovirus dengan total kasus global diperkirakan mencapai 685 juta kasus setiap tahunnya.

Virus tersebut pertama kali ditemukan di tahun 1972 dan menginfeksi setiap orang tanpa mengenal usia. Namun sampai saat ini vaksin yang efektif dan aman juga belum tersedia untuk publik. 

“Pada 2016, WHO menyatakan bahwa pengembangan vaksin Norovirus harus menjadi prioritas mutlak. Sayangnya, pengembangan vaksin Norovirus yang efektif terbukti sangat sulit, dan hanya dalam beberapa tahun terakhir, beberapa sediaan telah diuji pada manusia dalam uji klinis lanjutan.” tulis Esposito, dkk dalam artikelnya.

Ya, Norovirus bukanlah virus atau hal baru bagi umat manusia di seluruh penjuru dunia. Namun tetap saja hal ini perlu diwaspadai. CDC melaporkan wabah akibat virus ini bisa terjadi kapanpun. Hanya saja wabah umumnya terjadi mulai November-April.

Di bumi belahan barat dan utara periode November memang menjadi musim dingin. Sementara di negara tropis pasifik seperti Indonesia periode tersebut bertepatan dengan musim hujan. 

Tahun ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah memberikan warning fenomena perubahan iklim La Nina akan memicu terjadinya hujan lebat. Curah hujan yang tinggi bahkan 40% lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal berpotensi besar menimbulkan banjir. 

Banjir selain membawa kerugian material bagi penduduk juga menjadi sumber penyakit karena tergenangnya lingkungan perumahan dengan air yang kotor. Di dalam air yang kotor terkandung banyak sekali patogen mulai dari patogen penyebab flu, tifus, hepatitis bahkan penyebab diare seperti Norovirus.

Jelas baik masyarakat dan pemerintah harus mengantisipasi ancaman adanya penyakit ini apalagi kondisi cuaca memang sedang mendukung untuk terjadinya penyebaran penyakit. 

Sumber Artikel : CNBC Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed